(02/02/2025) – Hari kedua di bulan Februari ini meninggalkan kesan hangat di memoriku. Berlokasi di Kafe Titik Singgah, Kota Tangerang Selatan, aku hendak mengikuti forum diskusi yang mengangkat tajuk leadership. Meski matahari tanpa ampun memanggangku di bawah teriknya, tekadku tidak goyah. Beruntung sesampainya di sana, kami melakukan diskusi di dalam ruang sejuk dan tertata rapi.
Ditemani segelas es kopi penggugah dahaga, kami membentuk kelompok beranggotakan empat orang. Aku berkelompok dengan Ketua Umum Pimpinan Wilayah Banten IPM, salah seorang anggota pimpinan ranting IPM SMP Pontang, Serang, dan satu anggota pimpinan cabang IPM.
Kami mulai berdiskusi banyak hal tanpa luput dari topik yang ditentukan. Dimulai dari membahas mitos kekeluargaan yang ada di daerah kami. Salah satu mitos yang kami percayai sebagai IPM adalah bahwa kekeluargaan masih bisa terjadi di lingkungan pimpinan ranting.
Pernyataan ini muncul karena persamaan latar belakang anggota pimpinan ranting, yang mana sebagian besar berusia sebaya, berinteraksi intens dalam lingkup satu sekolah, dan jarang memiliki perbedaan mencolok. Namun, bagi pimpinan cabang, daerah, maupun wilayah, rentang usia yang berbeda, cara pandang yang variatif, serta minimnya interaksi membuat kekeluargaan lebih sulit terbentuk.
Selain itu, kami juga berdiskusi perihal pengikut yang menjadi leaders di waktu yang bersamaan. Setelah berbagai argumen, kelompok kami sepakat bahwa tidak mungkin seorang pengikut menjadi pemimpin di saat yang sama. Meski begitu, ada pengecualian: jika sang pengikut ingin memberikan usulan atau ide, tentu harus tetap melalui sang leader.
Namun, penting bagi pengikut tersebut untuk berpikir realistis sebagai pengikut dan bukan pemimpin. Karena jika ada lebih dari satu pemimpin dalam waktu yang sama, sangat mungkin terbentuk kubu-kubu dengan cara pandang berbeda.
Tentunya tidak hanya itu yang kami diskusikan. Banyak topik lain juga muncul, seperti:
-
Masih relevankah metafora dalam leadership di zaman sekarang?
-
Apakah leadership dapat diajarkan atau bakat bawaan?
Kegiatan diskusi seperti ini menyajikan topik-topik aktual yang ternyata relevan tanpa disadari, dan memberikan kesan mendalam bagiku pribadi.
Sebagai pelajar yang berorganisasi, aku terdorong untuk menjadi lebih kritis dan peka terhadap isu sekitar. Dari diskusi itu aku sadar bahwa leadership adalah hal yang luas — tidak bisa dijabarkan hanya dengan satu-dua asumsi. Leadership tidak hanya berbicara mengenai kewenangan dan keahlian seorang pemimpin, tetapi juga proses kolaboratif, terlepas dari jabatan formal maupun informal.
Di era globalisasi ini, kepemimpinan menjadi esensi dalam organisasi, sekolah, dunia kerja, hingga masyarakat. Dan yang terpenting: kepemimpinan yang baik tidak terpaut pada gender. Kesetaraan gender digaungkan di setiap sudut dunia demi memperoleh hak yang sama bagi pria maupun wanita. Begitu pun dengan kepemimpinan: setiap wanita berhak untuk memimpin tanpa terkecuali.
Dari cerita ini aku belajar bahwa kepemimpinan bukan soal gender, melainkan soal karakter dan kemampuan untuk menginspirasi serta mengelola tim. Seorang wanita bisa menjadi pemimpin dengan cara mendengarkan, menghargai kontribusi orang lain, dan membuat keputusan yang adil.
Akhirnya, aku menyadari: pemimpin sejati adalah ia yang mampu membangkitkan potensi dalam diri orang lain, bukan sekadar mengandalkan kekuasaan atau otoritas.
- Penulis adalah Riyanti, Kader Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kota Cilegon
- Substansi tulisan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.
