Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi” IPM Banten Hadirkan Aktivis Lingkungan dan Papua

Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi” IPM Banten Hadirkan Aktivis Lingkungan dan Papua

PELAJARJAWARA.IDPimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Banten bersama Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Tangerang Selatan menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, pada Rabu (13/5/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Teater SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi, Pamulang, Tangerang Selatan.

Nobar Pesta Babi yang didukung berbagai komunitas dan organisasi itu bertujuan membuka ruang dialog publik mengenai isu lingkungan, hak masyarakat adat, serta kondisi sosial yang dihadapi masyarakat Papua. Selain pemutaran film, kegiatan juga akan menghadirkan sesi diskusi bersama Alvin Esa Priatna (Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPD IMM Banten, Mia Sawaki (Jaringan Kerja Perempuan Papua Jakarta), Muhammad Akhsanul Akhlaq  (WALHI Jakarta), Salman Ridwan Imlan (Guru SMAM 25 sekaligus penulis.

Panitia menginformasikan bahwa peserta hadir dari sejumlah organisasi pelajar, mahasiswa, dan pegiat lingkungan adalah 100 peserta dan dapat memberikan donasi sukarela yang akan disalurkan untuk membantu pengungsi Papua. Melalui pemutaran film dan diskusi publik ini, penyelenggara berharap tercipta ruang dialog yang kritis, edukatif, dan inklusif bagi masyarakat, khususnya kalangan pelajar dan pemuda di Tangerang Selatan.

Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPD IMM Banten Alvin Esa Priatna mengatakan bahwa film dokumenter dapat menjadi sarana edukasi yang efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap persoalan lingkungan dan kemanusiaan.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang belajar bersama. Persoalan yang diangkat dalam film tidak hanya menyangkut Papua, tetapi juga menjadi refleksi bagi masyarakat Indonesia tentang keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, Mia Sawaki dari Jaringan Kerja Perempuan Papua Jakarta menilai pentingnya menghadirkan perspektif masyarakat Papua dalam setiap pembahasan mengenai tanah dan sumber daya alam di wilayah tersebut.

“Suara perempuan dan masyarakat adat Papua perlu didengar secara lebih luas. Melalui forum seperti ini, publik dapat memahami berbagai realitas yang selama ini jarang mendapat perhatian,” katanya.

Senada dengan itu, WALHI Jakarta Muhammad Akhsanul Akhlaq menyampaikan bahwa isu lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat lokal.

“Kerusakan lingkungan akan berdampak langsung pada ruang hidup masyarakat. Karena itu, diskusi ini menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian alam,” tuturnya.

Guru SMAM 25 sekaligus penulis, Salman Ridwan Imlan, menegaskan bahwa pendidikan harus mendorong peserta didik untuk berpikir kritis terhadap berbagai persoalan sosial.

“Sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kepedulian dan sikap kritis terhadap isu-isu yang berkembang di masyarakat,” ungkapnya.